Minggu, 20 Februari 2011

Sebelum 2004

Sebelum 2004 lalu, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) dikenal dengan Polewali Mamasa (Polmas). Beberapa bulan jelang Sulbar lahir,Mamasa berdiri menjadi kabupaten sendiri. MEMANG,wajah fisik Polman sudah banyak yang berubah.Namun, tidak meninggalkan ciri khas daerah ini sebagai pusat budaya Mandar. Pertemuan antarsuku di daerah ini juga menjadi keunikan tersendiri.Bagaimana pemerintah setempat mengatur dan mengawal pembangunan di kabupaten yang tergolong belia ini? Berikut wawancara Bupati Polman, Ali Baal Masdar, dengan wartawan media massa, Herman Mochtar.

Daerah ini dikenal sebagai pusat budaya Mandar.Bagaimana melestarikannya di tengah pesatnya pembangunan? Daerah ini dihuni oleh beberapa etnis dan sub etnis. Seperti Bugis, Toraja Mamasa, dan Jawa. Namun, mayoritas etnis Mandar. Kami memiliki tatanan kehidupan, sosial, dan adat istiadat yang khas. Ini tergambar dari kearifan-kearifan lokal dan beragam peninggalan budaya. Kesenian dan kebudayaan kami lebih banyak bernuansa Islami. Sebanyak 98,20% penduduk Polman menganut agama Islam. Banyaknya peninggalan budaya di Polman, sebagai bukti daerah ini dulunya memang pusat budaya Mandar.Dan sampai sekarang, Polman tetap menjadi pusat budaya.

Selama menjabat sebagai bupati dua periode di Polman,apa saja kebijakan prioritas Anda?

Semua program pembangunan mengacu pada pemberdayaan masyarakat yang pada ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan. Sebelum ada dana program bantuan operasional sekolah (BOS),pada tahun 2004 kami sudah menggratiskan pendidikan untuk siswa SD dan SMP.Setelah dana BOS turun pada pertengahan 2005, kami tingkatkan di SMA dan sederajat. Demikian juga dengan kesehatan gratis.Perawatan dasar pada 2004 dan wajib belajar 12 tahun sudah dicanangkan pada 2007. Saat itu, ada 29 orang dokter yang kami sekolahkan. Sehingga dokter ahli disini lengkap. Rumah sakit juga menjadi rujukan di Sulbar. Ya, kalau di Mamuju pemerintahan, di Majene pendidikan,maka di Polman kesehatan. Jadi, sektor pendidikan dan kesehatan yang menjadi fokus utama. Sebab dua unsur itu yang kurang di daerah ini.

Artinya,melindungi hak-hak dasar sipil. Sebelum pemerintah mengeluarkan berbagai regulasi kemudahan untuk rakyat,di Polman sudah berlaku,bahkan ada perdanya.Selain yang saya sebut tadi,pembuatan KTP gratis juga sudah dilakukan sejak 2004. Disini akte kelahiran dikenal dengan by name by addres. Demikian juga dengan data kemiskinan, sehingga mudah dikelola. Untuk membangun daerah tertinggal seperti di Polman butuh ketelatenan.Ibaratnya kalau mau menanam,susah mendapat hasil yang subur kalau masih banyak belukar disekitarnya.

Bagaimana dengan sektor ekonomi dan pariwisata?

Beras kami sudah swasembada.Pada 2012, diprogramkan sudah swasembada telur dan daging.Arah ke sana sudah mulai digagas.Termasuk penanaman ubi kayu sebagai bahan tapioka.Soal ini pemerintah sudah menandatangani MoU dengan salah satu investor dari Korea. Saya tidak akan sebut,nantilah kalau sudah benar-benar jadi baru diberitakan.Pabrik pengolahannya akan dibangun di Polewali. Jika berjalan lancar,per hektarenya bisa menghasilkan Rp4 juta sampai Rp5 juta per bulan.Ini luar biasa.Bisa mengangkat penghasilan per kapita masyarakat.

Sekarang angka itu sebesar Rp1,2 juta. Ubi kayu bisa menjadi alternatif karena mayoritas masyarakat kami bermata pencaharian petani kakao dan nelayan.Untuk sektor pariwisata, kami sangat serius. Buktinya Polman yang mewakili Sulbar sudah dua kali berturut-turut memenangkan festival budaya di Istana Negara. Begitu juga dengan Putri Indonesia. Kendalanya adalah lokasi wisata yang mayoritas masih natural.Untuk mengembangkan sektor ini gampang-gampang susah.Terus terang,pemerintah tidak dapat berbuat banyak,jika tidak ada dukungan masyarakat dan sektor swasta.Sebab ruang gerak dan anggaran pemerintah sangat terbatas.Posisi kami hanya ada pada tataran memberikan kemudahan dalam semua pengurusan.Tahun ini kami kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menciptakan wisata bahari.

Bagi Anda,apa sihmakna sebuah jabatan?

Setiap pemimpin punya karakter masing-masing. Namun yang terpenting adalah jangan berubah niat saat sudah menjadi pejabat. Jangan berubah saat menjadi penguasa. Kemudian harus konsisten, idealisme,dan kalau perlu punya jiwa militansi yang tinggi.Tapi militansi kebangsaan.Ini yang selalu saya lakukan dalam memimpin Polman. Anggaran Polman hanya Rp500 miliar dengan jumlah penduduk 400.000 jiwa.Saya harus mengelola itu dengan baik, karena dengan uang segitu, per orang hanya dapat sekitar satu juta sekian rupiah.Perlu upaya lain untuk menambah anggaran. Harus Pancasilais, tapi jangan hanya tahu bicara. Harus demokratis, tapi sekalikali konservatif juga tidak apaapa. Pola itu yang saya lakukan.

Setiap turun ke lapangan,saya selalu tanyakan pada masyarakat soal janji saya saat pilkada (pemilihan kepala daerah) lalu yang belum dipenuhi.Terus terang, dialog langsung dengan masyarakat saya sering menghilangkan stres. Mereka lugas mengungkapkan aspirasi,tanpa embel-embel lain. Karena semua program dan rencana kami sebagai pemerintah harus berasal dari aspirasi mereka. Buktinya, sebelum program pusat turun,kami sudah melaksanakannya. Itu karena aspirasi benar-benar diserap dari masyarakat. Demikian catatan online Nggo Kontes tentang Sebelum 2004.
READ MORE ~>> Sebelum 2004
 
 
Copyright © 2013 Nggo Kontes All Rights Reserved
Khanza Aulia Shafira Nugroho Kanghari Animal World